Selamat Datang di Ruma Manis

Mengenal Sejarah Tenun Ikat yang Memikat (Bag.2 – Habis)

Mengenal Sejarah Tenun Ikat yang Memikat (Bag.2 – Habis)

Mengenal Sejarah Tenun Ikat yang Memikat 1

Pernahkah Anda bertanya mengapa selembar kain tenun ikat bisa seharga jutaan rupiah?

Sama halnya dengan produk fashion internasional yang diproduksi dengan sentuhan tangan, begitu pula mewahnya tenun ikat. Helaian benang berukuran 0,5-0,7 milimeter dililit dengan teliti menggunakan lurit atau sebatang kayu halus berukuran 1 meter dan lebar 10 sentimeter. Fungsinya lurit untuk menekan dan merapatkan benang-benang. Proses yang memerlukan ketekunan inilah yang akan menghasilkan lembaran-lembaran kain ikat berkualitas baik.

Tak hanya itu, bagi masyarakat Desa Doka, di Kelurahan Bola, Kabupaten Sikka, Flores, tenun ikat yang mereka buat merupakan bentuk penghormatan pada alam. Ini tercermin dari pewarnaan yang dipilih juga menggunakan bahan-bahan alam seperti pewarna kuning diambil dari ku

nyit dan kulit pohon nangka. Sedangkan warna merah dari kemiri, daun pohon dadap, dan akar pohon mengkudu. Warna hijau berasal dari daun kacang dan daun nila, dan warna coklat berasal dari akar mengkudu dan pohon tembakau. Untuk proses pewarnaan membutuhkan waktu sekitar 3 bulan. Mereka pun tak sekadar menggunakan, tapi ikut menanam kembali jenis tanaman yang mereka gunakan. Pewarnaan ini tidak berbahaya, bahkan ampas tanamannya bisa digunakan sebagai pupuk tanaman.

Ada juga tenun ikat Sumba yang mendunia. Tenun ini juga dikerjakan dari benang kapas dan pewarna alami. Proses pembentukan motifnya dengan cara mengikat benang-benang yang sudah jadi menggunakan daun gewang atau sejenis daun palem agar warna pada motif dan warna dasar kain bisa berbeda. Untuk pewarnaan, para perempuan Sumba memanfaatkan akar mengkudu untuk mendapatkan warna merah, warna cokelat dari lumpur, biru dari nila, dan kuning dari kayu. Kain tenun Sumba terkenal mahal karena proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu cukup lama, yaitu mulai 6 bulan sampai 3 tahun.

Motif pada kain ikat Sumba memiliki filosofi khusus. Motif kuda memiliki arti kejantanan dan motif ayam menggambarkan kehidupan perempuan dalam kehidupan rumah tangga. Kain ikat ini menjadi sangat populer setelah diangkat oleh beberapa desainer ternama Indonesia seperti Biyan dan Didiet Maulana.

Di Kediri, Jawa Timur juga punya tenun ikat lho. Namanya Tenun Ikat Bandar Kidul dari Kelurahan Bandar Kidul di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Proses pembuatan tenun ikat dimulai dari pemintalan benang, pengikatan benang untuk membuat motif, kemudian pencelupan benang untuk mengeluarkan warna, lalu masuk ke proses penjemuran, setelah selesai barulah masuk ke tahap penenunan.

Begitu istimewanya ikat membuat Ruma Manis ingin mengambil inspirasi darinya. Bersama Katherine Karnadi, Ruma Manis mempersembahkan koleksi IKAT yang terdiri dari kitchen textile dan dining plates.

Share this
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Start typing to see products you are looking for.
Home
Shop